MUSIKALISASI PUISI DENGAN PARADE BAND


      Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas IX, terdapat KD menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun. Baren Barnabas Guru SMPN 2 Cikajang Garut mengembangkan strategi untuk pencapaian KD tersebut, yaitu dengan Parade Band. Alokasi waktu disiapkan enam jam pelajaran untuk tiga kali pertemuan.
     PEMBELAJARAN musikalisasi puisi sebaiknya dapat dijadikan kesempatan emas untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Kesenangan para siswa akan musik, lagu, dan grup band yang diidolakannya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu faktor pendukung pembelajaran musikalisasi puisi. Bukankah sebuah lagu pada mulanya adalah sebuah puisi juga? Ya, dapat dikatakan bahwa lagu adalah puisi yang diaransemen, diberi nada dan irama, serta diiringi dengan bunyi-bunyian dari alat-alat musik tertentu. Pendek kata, antara puisi dan lagu memiliki hubungan yang sangat erat. Kaitan inilah yang mencetuskan ide untuk menggelar musikalisasi puisi melalui sebuah acara dengan konsep parade band demokrasi: dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa.
Pada pertemuan pertama, PBM difokuskan pada pemahaman tujuan pembelajaran, penjelasan materi musikalisasi puisi disertai contoh-contoh, diperdengarkannya sebuah lagu puitis “Saat Terakhir” dari grup band ST 12, kemudian bersama-sama menentukan suasana lagu tersebut ditinjau dari susunan kata, cara menyanyikan, serta iringan musiknya. Setelah itu, siswa berkelompok dengan anggota 4-6 orang. Mereka diberikan pula LK berupa puisi berjudul “Buat Saudara Kandung” karya Hartojo Andangdjaja (dan beberapa pertanyaan) untuk dianalisis dari segi suasananya lengkap dengan alasan yang disertai kutipan kata-kata kuncinya.
Langkah berikutnya adalah menyusun rubrik penilaian untuk menilai presentasi tiap kelompok dalam menyampaikan hasil diskusinya. Keseluruhan LK kemudian dipajang di dinding kelas dan setiap kelompok diberi kesempatan untuk saling melihat hasil kerjanya itu sambil membubuhkan komentarnya. Terakhir, siswa dan guru melakukan refleksi atas pembelajaran saat itu. Sebagai PR, setiap kelompok ditugaskan untuk menghubungkan suasana puisi dengan nada dan irama yang pas untuk mengiringinya. Tidak lupa, untuk pertemuan berikutnya setiap kelompok ditugaskan juga untuk membawa alat-alat musik yang diperlukan.

Pada pertemuan kedua, di awal pembelajaran siswa dan guru bertanya jawab tentang menghubungkan suasana puisi dengan irama musikalisasi puisi yang telah ditugaskan. Berikutnya, setiap kelompok dipersilakan untuk bersiap-siap menampilkan musikalisasi puisi yang telah digubahnya. Agar lebih kental nuansa parade band-nya, mereka juga diwajibkan memberi nama kelompoknya dengan nama yang mencerminkan sebuah band. Tentu saja nama yang baru, bagus, pantas, komersil, bermakna, mudah diingat, serta memiliki konotasi positif.
Rubrik penilaian pun disusun bersama-sama dilanjutkan dengan pengundian untuk urutan penampilan. Saat sebuah band menampilkan musikalisasi puisinya, kelompok band lainnya melakukan penilaian. Oleh juru bicara setiap kelompok, hasil penilaian itu kemudian dipresentasikan dan diserahkan kepada kelompok yang bersangkutan. Selanjutnya, siswa dan guru melakukan refleksi sekaligus merencanakan pembelajaran musikalisasi puisi pada pertemuan ketiga atau terakhir. Disepakati dalam pertemuan itu, setiap kelompok diberi keleluasaan untuk menentukan sendiri puisi yang akan dimusikalisasi, baik puisi karya sendiri maupun orang lain.
Sebagai motivasi kepada siswa agar tampil lebih all out, guru berjanji untuk menampilkan band dengan musikalisasi puisi terbaik pada acara perpisahan nanti. Selain itu, mereka juga akan menerima kado berupa foto penampilan mereka ketika beraksi di kelas dalam parade band musikalisasi puisi. Pertemuan ketiga, seluruh band telah bersiap-siap mengikuti parade band musikalisasi puisi. Bermacam-macam alat musik mereka bawa. Tampaknya, semuanya ingin menyuguhkan musikalisasi puisi yang apik dan terbaik. Guru memulai pembelajaran dengan mengadakan tanya jawab seputar tugas yang diberikan, kendala yang dihadapi, serta tata cara penyelenggaraan parade band dalam menampilkan musikalisasi puisi.
Mereka disarankan agar memperkenalkan setiap anggota kelompoknya dan fungsinya dalam kelompok itu, apakah sebagai vokalis, backing vocal, gitaris (melodi dan rhythm), basis, dan lain-lain. enilaian difokuskan pada kesesuaian suasana puisi dengan iringan musik, kekompakan kelompok dalam menampilkan musikalisasi puisi, serta kreativitas mereka dalam mengemas pertunjukannya. Ditinjau secara keseluruhan, pertunjukan parade band dalam musikalisasi puisi ini sangat menggairahkan para siswa. Beberapa kendala memang ditemui. Minimnya alat musik (terutama drum) yang dimiliki.
Hal ini dapat diatasi dengan merujuk pada pepatah “tak ada rotan, akar pun berguna”, yakni dengan cara mendayagunakan alat musik atau benda lainnya yang identik, seperti gendang, galon air mineral, atau bahkan dengan meja belajar yang ada di kelas. Beberapa kelompok yang takut lupa akan teks puisi diperbolehkan untuk membawa teks puisinya ketika tampil. Sementara itu, mengenai jenis kelompok diberi kebebasan saja, bisa homogen atau heterogen.

Dikutip dari: inovasipendidikan.net

About these ads

5 comments on “MUSIKALISASI PUISI DENGAN PARADE BAND

    • Alus kang, ngan di saya mah masih aya kendala, budaknya loba nu kurang percaya diri, saeutik nu bisa maenkeun alat musikna, dll. kumaha nya ngaantisipasina ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s