BIDADARIKU
Bias sinar surya
Menerpa wajahmu
Hembusan sang bayu
Membelai indah
Tatapan matamu
Teduhkan jiwaku
Lembutnya suaramu
Sejukkan hatiku
Saat bersamamu
Adalah saat paling bahagia dalam hidupku
Dan… saat kau jauh dariku
Aku… hanya mampu
Hadirkan dirimu
Dalam istana khayalku
Kulihat bayangmu
Terasa melekat di kelopak mataku
Kini baru ku tahu
Kau adalah ratu di hatiku
Kini baru ku sadari
Kau adalah bidadari di hati ini
———————————————————————————————
Percikan cahaya rasa
Terpesona indah… maya
Terapung bimbang
Acuhkan bilangan
Tak…..tik….tak…..tik…..
Detik enggan berbalik
Pagi tak memberi pasti
Malam tak janjikan mimpi
Entah apa?
Tak jua iya!
Menunggu……melantunkan jemu
Entahlah……sudahlah
Mungkin kau anggap canda
Jika tawa dan air mata
Membuka jendela, memberi makna dan menerpa jiwa
Menjadi membara
———————————————————————————————
Kosongnya hati …
Mungkin karena belum adanya pengertian
Tuk memahami apa yang sedang terjadi
Saat ini hanya ada dirimu yang ada di hati
Semua yang kulakukan untukmu
Semua yang kuberikan padamu
Walaupun hanya setitik perbuatan dari hati
Yang jauh dari apa yang harus kulakukan
Tulus dari hatiku
Dan kaupun tak perlu ragu
Aku hanya ingin membahagiakan hatimu
Dan aku hanya ingin membahagiakan hatiku
———————————————————————————————
Seuntai kalimat….Sebaris kata…
Sebait syair…
Belum bisa mengungkapkan
Siapa dirimu
Senyummu adalah yang termanis
Tatapan matamu adalah yang tertajam
Yang mampu menusuk dan membekas di hatiku
Membekas yang tak mungkin hilang
Dan sirna diterpa zaman
Kau adalah yang terindah
Bagiku ——————————————————————————————— Berbicara itu mudah
Tapi berbicara dari hati
tuk ungkapkan isi hati tidaklah mudahMenahan pembicaraan tu mudah
Tapi menahan isi hati
yang ingin berbicara justru menambah bebanHati memang sukar di mengerti
Tapi kata hati memang pasti ——————————————————————————————— Kadang aku termenung melihat fotomu
Tetapi aku lebih sering tersenyum melihat fotomu
Seakan kau tersenyum pada hatiku
Seakan kau menatap tajam pada diriku
Entah kekuatan apa yang membuat aku begitu
Tahukah engkau? ——————————————————————————————— Aku berjalan menyusuri pagi tuk mencarimu
Aku melihat banyak pemandangan
Tapi tak ada yang seindah dirimu
Aku banyak melihat bunga ditepi jalan
Tapi tak ada yang seanggun dirimuAku terdiam hanya memikirkanmu
Cuma dirimu ——————————————————————————————— Hari ini aku kehilangan dirimu
Tak kulihat wajah dan senyum manismu
Tak kudengar suara merdumuAku hanya bisa menunggu
Datang dan menjemput hatikuAku hanya bisa merasakan kehadiranmu
Dalam kalbuku
Dalam impianku ——————————————————————————————— Aku berjalan beriring waktu
Tapi aku tak tau dimana aku berada
Aku tak bisa mundur atau melaju
Aku hanya terdiam sejuta rasa
Rasa yang tak mungkin sirna
Rasa yang terus bersemi ——————————————————————————————— Kuncup hati yang telah tertidur mekar kembali
Sekuntum bunga indah kini tampak kembali
Setelah tertutup kabut malam dalam kegelapan
Setelah terpendam dalam lelapnya malam
Wahai sekuntum bunga yang ada di taman hati
Tebarkanlah psonamu hari ini ——————————————————————————————— Kau yang telah tertulis dihatiku
Takkkan terhapus dari sanubariku
Karena tertulis dengan pahatan hatimu
Kau tulis dengan manisnya senyummu
Kau tulis dengan indahnya pribadimu
Kau tulis dengan sejuknya prilakumu ——————————————————————————————— Dalam hati terdapat kata-kata yang hanya dimengerti oleh jiwa.
Dalam cinta terdapat rasa yang hanya dimengerti oleh hati.
Cinta dan hati adalah satu.
Cinta tanpa hati adalah sia-sia.
Hati tanpa cinta adalah hampa. ——————————————————————————————— SERPIHAN HATI Perjalanan cinta tlah menghempaskan aku Pada hati yang kukagumi Terkadang bisu dan terkadang aku rindu Serpihan hatiku Yang tertanam pada hati dia Keping hatiku tertancap saat mencintai Dia Hanya namanya yang selalu ada Hanya setitik cahaya darinya yang mampu ku baca … Dimana aku akan mencari kembali Angin semilirpun dapat membawamu .. Begitu mudahnya dia merasuk kedalam semak hatiku .. Dia adalah kamu yang kucinta sepanjang waktu —————————————————————————————– SELEMBUT AWAN Cinta selembut awanMasih tersimpan di hatiPesonamu menawanKu dilanda sepiMengapa hanya padamuTercurah seluruh rasaHadir di setiap nafaskuBayangmu menyapaMeskipun ku tahu dirimu kiniTiada lagi sendiriNamun ku tak rela melepas segala mimpiOh… Mengapa hanya dirimuYang mampu mengisi hampa sanubari?Kini ku mengertiCintaku hanya lamunanKisah kita tak kan berakhirMenjadi kenangan —————————————————————————————– DUA PEREMPUAN Matamu, Dinda, tak ubahnya bintang yang redup. Berkilat di dalam gelap, tapi lemah dan kalah. Tak seharusnya kau ranggas dalam gelisahmu. Sebab malam ini adalah milikku. Sebab purnama dalam perutmu harus kau keluarkan, jadikan ia cahaya, jadikan ia mengingat kita. Dinda, sebab kau seorang perempuan. Aku juga seorang perempuan, Dinda. Karenanya aku ikut bela mati. Biarkan aku saja yang terbakar mengantar suamiku ke suralaya, suamimu kanda Abimanyu yang perkasa. “Dinda, kau melakukan tugasmu sebagai perempuan dengan melahirkan keturunan suami kita, aku pun melakukan tugasku sebagai perempuan dengan bela mati.” Gerimis ikut terbakar kurusetra berpendar. Berjuta pasang mata Dinda, matamu yang kutatap. Kutitip seluruh cinta yang pernah kurajut dalam resah desah napasmu. Pada basah panahpanah para ksatria dan genderang perang esok pagi. Dinda, laut air matamu tak kan sanggup memadamkan api ini. Maka tutuplah hatimu. Lepaskan segala rindu dan saksikanlah moksa diriku kanda Abimanyu dalam dekapku harum cempaka tubuhnya akan selalu ada di darah perutmu. Para dewa gegas menghampiriku Kobar api menari di tubuhku, tapi masih kutatap matamu, Dinda, mata yang cemburu ——————————————————————————————— KUANYAM KOTAMU /1/ Kuanyam kotamu menjadi perih yang berhamburan dalam antrean panjang orangorang bertubuh ringkih dan terbalik. Matahari tidak akan datang untuk membedakan mana mata mana hati mereka, tapi tangan mereka menadah di depan secangkir minyak tanah dan ceceran receh yang kau jahit pada setiap sudut dinding kantor pos. Maka bertahan hidup adalah menukar kupon. Lalu meneguk air mata yang diseduh anak cucu mereka seperti meneguk anggur merah dengan kehangatan yang tidak pernah pudar. /2/ Kuanyam kotamu dengan tangan yang berkabut peluh para buruh, dengan subsidi yang terlampau asin, dengan lumpur yang tumbuh di seluruh tubuh petani, dengan semua rasa amis yang kau rampas dari para nelayan. Nelayan yang tak lagi mengenal ikan sebab perahu mereka tidak lagi dapat dijalankan, sedang anak mereka yang botak dan buncit berlari riang di tepi pantai mengejar solar yang terus terbang. Aih, cepat nian kalian terbang. Lalu gerimis pecah di lautan. /3/ Kuanyam kotamu melalui cerita yang dinyanyikan anakanak jalanan serta kisah para pemulung yang mengumpulkan pepuing kehidupan di sepanjang jalan dan perapatan. Sesungguhnya dari serakan janjimulah mereka mengais sisa mimpi, lalu dari gelas plastik bekas air minummu di setiap kampanye dulu, lalu dari remah katakatamu yang penuh harap dan semangat itu. Di pojokan stasiun para pengemis mengupas kulit tubuh mereka, perlahanlahan, hingga anak mereka yang paling kecil itu terlelap diam. Dipojokan terminal para supir angkot dan biskota sedang mencukur bulan, mengadu pada bintang. Barangkali uang setoran jadi begitu menakutkan. /4/ Kuanyam kotamu secara diamdiam, begitu perlahan, sebab kutakut kau akan terbangun dan mendapati wajahmu berjatuhan di selokan atau lubang galian kabel pinggir jalan, lalu kotamu, kotamu yang megah ini menjadi murung sebab cemas yang kau bacakan di seluruh POM BENSIN telah terlanjur disebarkan. Institut Merdeka, 2008
okey banget nich…..
mantab !!!