Siapa peduli minat baca siswa?


Minat baca siswa di zaman sekarang sangatlah kurang. Hal ini terlihat dari pengunjung perpustakaan sekolah di sekolah-sekolah grafiknya tidak begitu mengembirakan. Hanya pada bulan-bulan tertentu tertentu saja yang grafiknya naik, itu pun kenaikannya sangat sedikit. Biasanya bulan pada awal masuk sekolah dan menjelang pekan ulangan saja yang bertambah. Bukti lain, jika siswa kita diberi pertanyaan “Kegiatan apa yang kamu lakukan di rumah selama libur/pulang sekolah?” “Mana yang kamu pilih, membaca atau mendengangarkan orang membaca?” Untuk pertanyaan pertama pasti sebagian besar jawabannya tidak ada yang mencoba membuka buku atau membacanya. Kebiasaan mereka tergeser oleh asyiknya menonton televisi, dengar musik, main game, atau hanya nongkrong bersama teman. Untuk pertanyaan kedua hampir seluruhnya akan menjawab mendengarkan orang membaca. Sungguh memprihatinkan.Jika kebiasaan ini kita biarkan, tidak menutup kemungkinan minat baca pada siswa atau lebih jauhnya pada masyarakat kita (mengingat siswa adalah generasi kita) lambat laun akan sangat berkurang bahkan hilang sama sekali.Mengapa mereka berperilaku begitu?
Kita tidak boleh meyalahkan zaman/globalisasi atau siapa-siapa.

Siapa yang harus berperan dalam menumbuhkembangkan kembali minat baca siswa?
Bingung juga jawabannya. Selama ini sebagian orang tua telah hampir 100% menyerahkan anaknya ke sekolah. Buktinya? Tidak sedikit orang tua yang selalu menyalahkan bahkan memaki-maki dengan sumpah serapah yang sangat beragam ke sekolah. Padahal jika di hitung-hitung keberadaan siswa di sekolah jauh lebih sedikit dibanding dengan di lingkungan keluarga. Memang tidak kita pungkiri masih ada sebagian orang tua yang peduli terhadap masalah ini. Sering penulis mendengar dari siswa atau bertemu dengan orang tua yang selalu membelikan buku bacaan bagi anaknya walaupun berupa komik. Tapi tak apalah yang penting dapat menyentuh titik awal kemauan untuk membaca.Sudah saatnya orang tua selalu bergandengan tangan dengan sekolah, sebab sebetulnya dalam diri anak-anak kita itu masih ada rasa atau keinginan untuk memperbaikinya.

Dalam suatu kesempatan penulis mencoba memberi tugas untuk membuat resensi novel remaja. Tugas tersebut memang dikerjakan berkelompok (enam orang) dan tenggang waktu yang diberikan hanya satu minggu. Berarti dalam satu minggu novel tersebut harus dibaca oleh semua anggota kelompok secara bergiliran. Ternyata setiap anggota kelompok mau melalap novel tersebut dalam satu hari. Hasil resensinya? Tidak mengecewakan jika dibanding dengan resensator yang sering muncul di koran-koran.

Mulai sekarang marilah kita pikirkan bagaimana kita mencari atau menciptakan trik-trik jitu yang dapat menumbuhkembangkan budaya membaca di kalangan siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s