PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI CERITA-CERITA JENAKA SI KABAYAN


Oleh: Memen Durachman

1. Pengantar
Cerita Si Kabayan dikenal sebagai salah satu cerita jenaka nusantara di samping cerita-cerita jenaka lainnya seperti Lebai Malang, Si Luncai, Si Meusekin, Joko Bodo, dan lain-lain. Cerita-cerita jenaka tersebut bukan hanya populer di masyarakatnya melainkan juga di nusantara bahkan di masyarakat dunia.
Cerita-cerita terbut sangat di sukai berbagai kalangan dan berbagai umur. Dari presiden hingga rakyat biasa menyukai cerita jenaka. Demikian pula dari orang tua hingga anak-anak.
Cerita-cerita tersebut menimbulkan efek riang sehingga suana pun jadi segar. Oleh karena itu, cerita-cerita tersebut bukan hanya dituturkan ketika orang-orang sedang bercanda ria, tetapi dituturkan juga dalam forum-forum resmi dan dalam suasana formal sebagai selingan agar suasananya tidak terlalu formal atau kaku.
Cerita-cerita tersebut sangat efektif digunakan sebagai alat untuk menanamkan karakter. Tidak terasa substansi cerita tersebut diam-diam terinternalisasi dalam jiwa manusia meresap jauh ke alam bawah sadar manusia. Apabila sudah terinternalisasi, maka disadari atau tidak akan mempengaruhi kepribadian, bahkan mempengaruhi karakter seseorang. Memang proses tersebut memerlukan waktu yang panjang. Akan tetapi, kita perlu mengupayakannya secara terus-menerus agar hal-hal tersebut menjadi kebiasaan, tradisi, dan menjadi karakter.
Dalam tulisan pendek ini dikemukakan cerita jenaka tiga cerita Si Kabayan. Cerita-cerita tersebut bisa digunakan untuk menanamkan karakter tertentu.

2. Teks-teks Cerita Si Kabayan
a. Si Kabayan Jalan-jalan
Diceritakan Si Kabayan dan teman-temannya berjalan-jalan berkeliling ke sekeliling kampung. Mereka berjalan-jalan dengan riangnya. Sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau.
Mereka pun sampailah pada sebuah tanjakan. Jalan itu posisinya menaik sekali sehingga membuat kawan-kawan Si Kabayan berkeluh kesah. Akan tetapi, lain halnya dengan Si kabayan. Ia malah tertawa-tawa, bersenandung yang membuat kawan-kawannya keheranan.
“Kabayan, kenapa kamu seperti itu? Orang-orang lain kecapaian, kamu malah tertawa-tawa, nyanyi-nyanyi?”
“Hei kawan, tidak mesti begitu. Lihatlah sebentar lagi kita akan berjumpa dengan turunan, dengan pudunan.”
Kawan-kawan Si Kabayan pun tidak bisa berkata apa-apa karena memang di hadapan mereka sekarang terbentang jalan menurun. Mereka pun bergembira, bersorak sorai dengan riuh rendah.
Lain halnya dengan Si Kabayan. Sepanjang jalan menurun itu, ia malah menangis tersedu-sedu. Perilaku Si Kabayan seperti itu membuat kawan-kawannya keheranan pula.
“Hei Kabayan, ada apa dengan kamu? Orang-orang bersenang-senang, kamu malah menangis tersedu-sedu? Kenapa?”
“Kawan, lihatlah sebentar lagi kita akan menghadapi tanjakan, jalan menaik. Lihatlah di hadapan kita.”
Kawan-kawan Si Kabayan pun tidak bisa berkata apa-apa. Mereka mengakui kebenaran kata-kata Si Kabayan tapi mereka pun tidak bisa berperilaku seperti Si Kabayan.

b. Si Kabayan Jajan Es
Sekali waktu Si Kabayan kehausan, maka ia pun mencari tukang es untuk memuaskan rasa haus dahaganya. Dicarinyalah tukang es. Setelah berkeliling ke sana ke mari, dijumpainya juga tukang es itu.
“Mang, beli es segelas,” katanya kepad tukang es.
Tukang es pun melayaninya dengan senang hati. Akan tetapi, ketika es itu tinggal setengah gelas, Si Kabayan pun berujar:
“Mang, terlalu manis nih, boleh tambah esnya?”
“Boleh!” Tukang Es itu pun menambahkan es ke gelas Si Kabayan hingga penuh.
Si Kabayan pun meneguknya dengan penuh semangat. Ia menghentikan tegukannya ketika sudah sampai setengah gelas. Ia pun berujar:
“Mang, kurang manis nih. Tambah sirop dong?”
Tukang es itu pun menambahkan sirop ke gelas Si Kabayan. Si Kabayan pun meneguknya dengan penuh semangat. Akan tetapi, ia pun melakukan hal serupa manakala gelasnya tinggal setengah lagi. Dikatakanya kurang manis lah, kurang es lah. Demikianlah berulang-ulang dilakukannya hingga tukang es pun marah karenanya.

c. Si Kabayan Mencari Siput
Si Kabayan disuruh Ambu, mertuanya untuk mencari siput ke sawah. Siput itu akan digunakannya sebagai lauk karena waktu itu sedang masa paceklik. Pikiran Ambu daripada membeli ikan ke pasar harganya mahal lebih baik nyuruh Si Kabayan mencari siput di sawah, tidak harus mengeluarkan uang. Si Kabayan pun pergilah ke sawah untuk mencari siput.
Sesampai di sawah, ia ketakutan sekali karena didapatinya ada bayangan langit di sawah itu. Dalam pikirannya, pasti sawah itu sangat dalam. Ia takut akan tenggelam, apalagi pagi itu dirasakannya masih sangat dingin. Ia pun hanya berkeliling-berkeliling di sekitar sawah itu, di pematangnya.
Ambu di rumah sudah sangat gelisah. Mengapa Si Kabayan belum pulang juga padahal hari sudah sangat siang. Ada apa gerangan? Ambu pun menyusul ke sawah.
Didapatinya Si kabayan sedang berkeling-berkeliling terus di pematang. Ambu heran, apa gerangan yang sedang dilakukan Si kabayan? Ambu pun tidak dapat menahan marahnya.
“Kabayan, mana siputnya?”
Kabayan kaget setengah mati. Wah Ambu pasti marah, pikirnya.
“Itu Ambu, bayangan langit tampak di sawah. Pasti airnya sangat dalam!” Belanya.
Ambu makin marah mendapatkan Si Kabayan membela diri sepeti itu. Dirorongnya Si Kabayan ke sawah.
“Eit! Ternyata cetek!”

d. Karakter-karakter yang Ditanamkan Melalui Cerita Si Kabayan
Cerita-cerita Si Kabayan tersebut menarik kan? Mari kita diskusikan karakter apa yang dapat kita tanamkan kepada mereka.
Teks pertama mengajarkan kepada kita –juga kepada anak-anak- banyak hal. Akan tetapi, utamanya berkenaan dengan ajaran kesederhanaan dalam menghadapi hidup. Kita tidak boleh bergembira secara berlebihan. Demikian juga kita tidak boleh berkeluh kesah berlebihan.
Manakala kita mendapat kesulitan, penderitaan, kita tidak boleh merasakan itu sangat memberatkan sekali hingga seolah-olah hidup akan berakhir. Seolah-olah kita saja yang menderita, padahal banyak orang juga mengalami hal yang sama.
Janganlah kita beranggapan bahwa kesulitan itu tidak akan pernah berakhir. Seperti digambarkan dalam cerita pertama yang mengatakan bahwa tanjakan itu akan berakhir dengan mendapatkan jalan menurun.
Cerita kedua berkaitan dengan karakter orang yang selalu bersyukur. Perilaku Si Kabayan yang selalu meminta tambahan es dan sirop secara bergantian terus menerus mengajarkan kepada kita bahwa kita harus selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan.
Hal itu tampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika musim kemarau, orang mengeluh kepanasan. Mereka pun berharap Tuhan segera memberi hujan. Ketika musim hujan, orang pun kembali mengeluh karena banjir, longsor dan sebagainya. Orang pun berdoa kepada Tuhan agar segera didatangkan musim kemarau. Begitulah seterusnya, orang-orang pun selalu mengeluh ketika mendapati musim apa pun karena mereka tidak bersyukur dengan pemberian Tuhan.
Teks cerita yang ketiga berkenaan dengan karakter manusia yang harus optimis. Manusia biasanya hidup penuh dengan prasangka dan ketakutan. Prasangka dan ketakutan itu saling mengakibatkan. Prasangka menimbulkan ketakutan dan ketakutan juga menyebabkan berbagai ketakutan.
Ketakutan itu ditunjukkan oleh Si Kabayan yang takut terjun ke sawah untuk mengambil siput. Ketakutan itu bukan hanya disebabkan karena bayangan langit yang ada di permukaan air sawah tetapi juga karena hawa dingin yang dirasakan Si Kabayan.
Ketiga teks tersebut akan menanamkan karakter hidup sederhana, rasa syukur, dan optimisme dalam hidup. Ketiga karakter itu sangat diperlukan untuk menghadapi hidup yang keras. Dalam pelaksanaannya, guru bisa memperdengarkan atau meminta anak-anak membaca cerita-cerita tersebut secara berulang-ulang atau mereka pun akan membacakannya secara berulang-ulang karena ceritanya menyenangkan.
Dengan demikian, pelan tetapi pasti karakter itu akan tertanam di dalam hati mereka setelah terinternalisasi dan menjadi kebiasaan dalam hidup mereka. Akan tetapi, guru atau orang tua harus bersabar karena penanaman karakter memerlukan waktu yang cukup lama, tidak bisa instan. Guru atau orang tua tidak boleh tergesa-gesa dengan memaksakan kepada mereka pesan-pesan yang eksplisit dan vulgar. Tanpa pesan lain pun cerita sudah memiliki pesan yang lengkap. Oleh karena itu, cukup cerita itu diperdengarkan, dibaca atau dibacakan secara berulang-ulang.

e. Penutup
Bagaimanapun cerita-cerita jenaka itu efektif untuk menanamkan karakter-karakter tertentu. Karakter-karakter itu diperlukan dalam menghadapi hidup yang kerasdan penuh tantangan.
Penggunaan cerita jenaka terutama berdasarkan alasan karena cerita sejenis itu menyenangkan. Nilai-nilai dalam cerita jenaka itu akan secara halus tertanam dalam jiwa mereka tidak dengan paksa tapi dengan sukarela dan senang hati.

Pustaka Rujukan:
Dundes, Alan. 1965. The Study of Folklore. New York: Prentice Hall Inc.
Durachman, Memen. 2004. “Mitos Si Kabayan Serakah dalam Cerpen ‘Gual-guil’ Godi Suwarna, dalam Vismaia Damaianti dkk. (Ed.). Mendapatkan Indonesia yang Literat: Esei-esei Bahasa, Sastra, dan pengajarannya. Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.
Durachman, Memen. 2008. “Cerita Si Kabayan: Transformasi, Proses Penciptaan, Makna, dan Fungsi” dalam Jurnal Penelitian Sastra Metasastra Volume 1 Nomor 1, Juni.

One comment on “PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI CERITA-CERITA JENAKA SI KABAYAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s